Senin, 23 Januari 2012

Fakta Orangutan

Orangutan merupakan satu-satunya anggota keluarga besar kera di dunia di Asia. Ada dua spesies orangutan, orangutan Sumatera ( Pongo abelii ) didistribusikan ke Pulau Sumatera dan orangutan Borneaen ( Pongo pygmaeus ) didistribusikan di Pulau Kalimantan (Borneo). Tiga lainnya spesies kera besar dapat ditemukan di Afrika: simpanse ( Pan troglodytes ), gorila ( Gorilla gorilla ), dan Bonobo ( Pan paniscus ). Orangutan adalah milik urutan primata dan PonginaeBerdasarkan penelitian di genetik, morfologi, ekologi, perilaku, dan sejarah hidup, orangutan Sumatera yang terbukti berbeda dari kerabat mereka Kalimantan (Delgado & van Schaik, 2000, Groves, 2001, Zhang et al., 2001).
Orangutan Sumatera dan Borneo orangutan yang terpisah secara geografis setidaknya sejak 10.000 tahun lalu, ketika kenaikan permukaan air laut terjadi antara kedua pulau. Orangutan Kalimantan diklasifikasikan menjadi 3 sub-spesies (Groves, 2001; Warren et al, 2001.), Yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus, mulai dari barat laut Kalimantan (Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum, serta daerah sekitarnya) utara Sungai Kapuas, di sebelah timur wilayah Serawak negara (Malaysia); Pongo pygmaeus wurmbii, mulai dari Kalimantan barat daya ke selatan sungai Kapuas melalui Sungai Barito, dan Pongo pygmaeus morio: mulai dari Sabah dan Kalimantan Timur sampai sungai Mahakam.

Fisik karakteristik:
  1. Borneaen orangutan ( Pongo pygmaeus ) memiliki tubuh yang lebih besar, memiliki rambut cokelat, langka dan singkat gelap atau kemerahan, dan mereka memiliki bintik-bintik kemerahan atau kehijauan pada masa bayi;
  2. Orangutan Sumatera ( Pongo abelii ) memiliki tubuh yang lebih kecil, memiliki rambut terang atau oranye, dan tangan mereka lebih panjang dari kaki;
Secara umum, orangutan jantan memiliki cheeckpads yang mendapatkan lebih besar saat mereka tumbuh dan tubuhnya dua kali lebih besar dari orangutan betina dengan berat badan berkisar 50-90 kg.
Habitat:
  1. Habitat orangutan adalah hutan dataran rendah tropis, dibanjiri hutan hutan atau bukit di ketinggian 1.500 m di atas melihat tingkat. Saat ini, mereka menghuni hutan yang masih tersisa di Kalimantan dan Sumatera (90%), sedangkan sisanya ditemukan di hutan tersisa Malaysia (Sabah dan Serawak);
  2. Orangutan adalah makhluk arboreal. Ini berarti mereka bersarang diatas pohon-pohon tinggi dan menghabiskan lebih banyak kegiatan sehari-hari di atas tanah.
Makanan dan Regenerasi Hutan:
  1. Orangutan makan buah-buahan (frugivore). Mereka juga makan daun, bunga, dan kambium. Rayap dan semut adalah bagian dari diet mereka untuk mendapatkan protein. Untuk mineral, orangutan kadang-kadang makan tanah;
  2. Orangutan kebiasaan makan buah dan jelajah dari satu pohon ke pohon lainnya memainkan peran penting dalam proses regenerasi vegetasi ';
  3. Orangutan memakan daging dan biji. Biji dimakan tercampur dalam kotoran mereka, sehingga memungkinkan untuk tumbuh menjadi tanaman baru dan dengan demikian membantu regenerasi hutan;
  4. Orangutan juga 'makan dalam perjalanan' selama eksplorasi mereka antara pohon-pohon. Mereka meludahi biji saat melakukannya jauh dari pohon induk.Dengan cara ini, mereka membantu menyebarkan wilayah populasi pohon.
Budaya dan Perilaku:
  1. Orangutan hidup di semi-solitaire lingkungan. Mereka tidak membentuk kelompok sebagai kera besar lain. Mereka bersosialisasi dengan individu lainnya hanya selama musim kawin yang berlangsung selama 2-3 minggu dan-untuk dewasa wanita-selama periode penitipan anak. Orangutan melahirkan hanya satu anak per kelahiran, setelah 5-8 bulan kehamilan. Orangutan bisa hidup hingga 45-50 tahun;
  2. Mirip dengan manusia, orang tua merawat orangutan betina, melindungi, dan merawat anak mereka sampai mereka bisa hidup mandiri dari ibu;
  3. Sebagian besar kegiatan sehari-hari mereka dilakukan pada kanopi pohon besar. Mereka cenderung untuk mengeksplorasi hutan dengan menggunakan cabang-cabang pohon. Mereka secara aktif menggunakan semua gerak empat lengan dan kaki-tangan-dalam melakukan itu;
  4. Orangutan membangun sarang mereka sebelum matahari terbenam. Sarang mereka dibuat di cabang yang berbeda dan dilengkapi dengan cabang-cabang pohon dan daun dilipat;
  5. Orangutan jantan dewasa dapat menghasilkan panggilan lama yang sangat keras yang dapat didengar dari 3 km. Suara itu dimaksudkan untuk menantang orangutan jantan dewasa lain di daerah tersebut atau untuk menandai wilayahnya.
Populasi:
Menurut data yang dirilis oleh Lokakarya Internasional tentang Penduduk Analisa Viabilitas Habitat (PHVA) -2004, populasi orangutan di Kalimantan mencapai 57.797 individu. Sementara di Sumatera, jumlahnya 7.501 orang.
Status konservasi :
  1. International Union untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN/2004) menempatkan orangutan dalam kategori sangat terancam punah untuk orangutan Sumatera dan orangutan terancam punah untuk Borneaen;
  2. CITES Appendix 1.
  3. Resmi peraturan:
·         Peraturan Perlindungan Binatang Liar (Peraturan Perlindungan Binatang Liar) # 233 / 1931;
·         Hukum (UU) # 5 tahun 1990;
·         Surat Putusan Departemen Kehutanan (SK Menhut) 10 Juni 1991, # 301/Kpts-II/1991;
·         Peraturan Pemerintah (PP) # 7, 1999.
IUCN diperkirakan dalam satu atau dua dekade, orangutan akan menghadapi kepunahan. Hal ini akan mungkin terjadi seharusnya tidak ada upaya yang serius diperhitungkan dalam menghindarinya.
(Sumber: Dr Sri Suci Utami Atmoko, Buku: Di Ambang Kepunahan [Di Wajah Extinction], dan PPS Ragunan)

Progam Untuk Orangutan:
» Kalimantan Timur Reintroduksi Orangutan dan Program Rehabilitasi Lahan di Samboja Lestari
Reintroduksi Orangutan

Program Reintroduksi Orangutan didirikan oleh BOSF di lokasi yang kemudian dikenal dengan Wanariset Samboja. Daerah yang terletak di Kutai Kertanegara Kabupaten, Kalimantan Timur, pada awalnya hanya selebar 3-4 hektar. Kembali pada tahun 1991, ketika proyek masih di bawah Tropenbos, rehabilitasi pertama dari sebuah orangutan dan habitatnya pertama kali dilakukan di daerah ini. Para BOSF dalam koordinasi dengan Kepolisian dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dari Departemen Kehutanan , melakukan upaya penyelamatan orangutan, termasuk menyita orangutan peliharaan. Upaya Penyitaan adalah otoritas BKSDA. Menyerahkan orangutan diselamatkan atau harus menjalani proses karantina dan rehabilitasi pertama, sebelum mereka dapat dilepaskan kembali ke habitat alami mereka di mana tidak ada populasi orangutan liar lainnya di daerah tersebut. Seluruh proses karantina dan rehabilitasi dianggap penting karena sebagian besar orangutan BOSF yang menyelamatkan adalah bayi atau sedang dalam kondisi tidak tahu bagaimana hidup di alam liar karena mereka diambil dari habitat mereka sejak kecil. Orangutan yang telah dijinakkan selama beberapa tahun, akan terbiasa dengan gaya hidup manusia. Tujuan dari proses rehabilitasi adalah untuk memberikan pengetahuan kepada orangutan-orangutan terutama bayi dan anak yatim-sehingga mereka bisa hidup seperti orangutan normal di hutan. Dalam hal status keamanan untuk daerah rilis orangutan, sejak tahun 2005, Rehabilitasi Orangutan Kalimantan Timur Program di Samboja Lestari (PROKT-SL) dengan pihak terkait lainnya telah secara aktif membangun model pengelolaan berkelanjutan Perlindungan Hutan Gunung Beratus. Perubahan besar datang pada tahun 2006 ketika BOSF merasa bahwa Wanariset Samboja daerah tidak lagi memadai untuk mempertahankan jumlah orangutan, dan segala sesuatu-termasuk infrastuctures-harus pindah ke Samboja Lestari. Namun, BOSF masih berusaha untuk memaksimalkan potensi dari Wanariset Samboja bahkan sampai hari ini. Selain reintroduksi orangutan, BOSF juga menyelenggarakan perlindungan sunbear dengan saat ini 51 beruang madu dalam perawatan nya. Sejak tahun 1998, BOSF telah menerima beruang madu ( 
Helarctos malayanus ) dari BKSDA Kalimantan Timur untuk menjaga-hasil penyitaan atau penyerahan-karena pemerintah daerah masih belum memiliki fasilitas yang memadai bagi mereka. Rehabilitasi Lahan Rehabilitasi Lahan Program Samboja Lestari adalah salah satu program yang dikembangkan oleh Yayasan BOS di Kalimantan Timur. Program ini terletak di Kutai Kertanegara Kabupaten, Kecamatan Samboja, dan empat desa; Margomulyo, Sei Merdeka, Amburawang Darat, dan Tani Bakti. Untuk membuat area perlindungan bagi orangutan, beruang madu, serta burung dan satwa liar lainnya melalui rehabilitasi, reboisasi, dan kegiatan arboretum adalah peran utama dari Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari. Samboja Lestari areal pada akhir 2009 adalah 1,852.63 ha, dan 983,24 ha kawasan memiliki Sertifikat Hak Pakai yang dikeluarkan oleh Badan Badan Pertanahan Nasional (BPN).Tujuan umum Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari adalah untuk mengubah lahan tidak terpakai menjadi hutan dan satwa liar yang produktif perlindungan kawasan, terutama bagi orangutan unreleasable karena penyakit, usia tua, atau cacat. Secara umum, wilayah Samboja Lestari dibagi menjadi 9 zona: Arboretum (72 ha), Hutan Sekolah (75 ha), Pulau Orangutan (7 ha), Sunbear Sanctuary (58 ha), Tanaman Pengunjung (25 ha), Pertanian Organik / Kompos (1 ha), Infrastruktur (3 ha), Hutan Kota (50 ha), dan Rehabilitasi Lahan (1.561,63 ha). Samboja Program Rehabilitasi Lahan adalah program utama di daerah tersebut.Samboja Lestari Program Rehabilitasi Lahan mencoba untuk mengintegrasikan teknologi, akademik, penelitian dan kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk memastikan tercapainya kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam. Masyarakat setempat adalah aktor utama dari kegiatan kehutanan agro seperti memasok buah untuk orangutan. Masyarakat lokal juga terlibat dalam kegiatan operasional seperti penanaman atau pembibitan. Program ini juga mencari pendapatan alternatif dari penggunaan limbah kayu untuk kerajinan. 
Alamat:     Jl. Balikpapan-Handil Km.44 Rt. 01     Kecamatan Margomulyo, Samboja, Kalimantan Timur, 75273     Telp: +62 (0) 542 707 0485 / 702 3600, Fax: +62 (0) 542 413 069     Email: bos_kaltim@orangutan.or.id

 » Kalimantan Tengah Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng Program di
Kalimantan Tengah Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng Program di (CKORP-NM) didirikan oleh Yayasan BOS pada tahun 1999. CKORP-Nyaru Menteng terletak di arboretum Nyaru Menteng Kalimantan Tengah, sekitar 30 km dari pusat kota Palangkaraya. Dalam program ini, BOSF bekerjasama dengan Kalimantan Tengah Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), unit eksekutif teknis dari Departemen Kehutanan.
Kegiatan utama CKORP-Nyaru Menteng orangutan karantina, rehabilitasi, dan lepaskan. Namun dalam kenyataannya, CKORP-NM juga melakukan kegiatan lain seperti memfasilitasi penyelamatan dan penyitaan yang merupakan tanggung jawab Badan Konservasi Sumber Daya Alam.
Sementara itu dalam mendukung program reintroduksi orangutan, terutama dalam pengadaan pangan, pada tahun 2002 CKORP-Nyaru Menteng membeli 3-hektar tanah di pinggiran kota arboretum untuk perkebunan pohon buah-buahan. Tanah adalah 1 sampai 1,5-meter lahan gambut tebal yang mendalam dan biasanya terendam selama musim hujan. Pada 2004, CKORP-Nyaru Menteng staf menanam buah-buahan dan pohon lainnya. Mereka juga menanam 500 pohon salak di daerah tersebut. Namun, logistik untuk makan orangutan yang mencapai sekitar satu ton per hari masih disediakan oleh masyarakat setempat di sekitar Nyaru Menteng dan Palangkaraya.

Alamat: 
Jl.Cilik Riwut Km.28 
PO.BOX 70, 7300 Palangkaraya, Indonesia 
Telp: +62 (0) 536 330 8416, Fax: +62 (0) 536 322 5065 

E-mail: bos_nyarumenteng@orangutan.or.id

» Kawasan Konservasi Mawas Program
Area Program Konservasi Mawas merupakan program konservasi untuk orangutan, habitat, dan lingkungannya. Daerah Mawas, yang terdiri dari 215.000 hektar-blok E2, dan 94.000 hektar-blok Utara, adalah sangat tebal-lebih dari 3 meter di beberapa titik-gambut-lapis kawasan hutan. Oleh karena itu, menurut peraturan pemerintah, kawasan ini diklasifikasikan sebagai kawasan konservasi yang dilindungi. Dalam arti administratif, wilayah Program Kawasan Konservasi Mawas mencakup 2 kabupaten-kabupaten Barito Selatan dan Kapuas-5 kecamatan dan 53 desa dengan tidak kurang dari 29.000 keluarga penduduk. Daerah Mawas, selain terdiri lapisan tebal gambut, juga mendukung keanekaragaman hayati yang besar, dengan tidak kurang dari 3.000 orangutan mendiami areal tersebut (menurut Van Schaik et al penelitian, Populasi Habitat Viabilitas Assesment -. PHVA). Orangutan (Pongo pygmaeus) adalah spesies langka dan dilindungi oleh hukum.Upaya konservasi orangutan telah mengangkat perhatian serius di seluruh dunia, karena itu, Kawasan Konservasi Mawas memainkan peran yang sangat penting bagi upaya konservasi orangutan dan habitatnya, serta untuk keanekaragaman hayati, konservasi masyarakat lingkungan, dan lokal. Foundation didirikan Wilayah BOS Mawas Program konservasi dengan tujuan menampilkan semua orang bahwa kita dapat melestarikan suatu ekosistem yang beragam, yang berisi tingkat tinggi-karbon untuk memperlambat perubahan iklim dunia melalui kerjasama di tingkat internasional. . Yayasan BOS berharap untuk dapat melindungi hutan gambut di Kalimantan Tengah 309.000 melalui berbagai program yang dilakukan bersama pemerintah dan masyarakat lokal setempat Beberapa manfaat tak berwujud Program Kawasan Konservasi Mawas adalah:
·         Membantu mengurangi efek rumah kaca dunia
·         Langsung meningkatkan kesadaran internasional tentang menyelamatkan spesies penting, seperti orangutan;
·         Memberikan pengaruh ekonomis positif bagi masyarakat yang berada di sekitar Mawas;
·         Memaksakan Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), Agenda 21 (perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan bisnis dll), Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka (CITES), dan Konvensi Ramsar mengenai Lahan Basah;
·         Memberikan kesempatan bagi staf dari pemerintah daerah untuk mencapai beasiswa (lokal dan internasional) dengan melakukan penelitian dalam Program Kawasan Konservasi Mawas.

Alamat:
Jl. Nuri No 9 Rt. 01 Rw. XXIV Kelurahan Bukit Tunggal 
Kecamatan Jekan Raya , Palangkaraya 73112 
Telp. 0536-3308414 
Fax. 0536-3229296

» Program Restorasi Habitat Orangutan (RHO)
Menteri Kehutanan Indonesia telah mengeluarkan Keputusan tanggal 18 Agustus 2010, yang akan memungkinkan untuk melepaskan orangutan BOSF direhabilitasi menjadi konsesi restorasi ekosistem PT. RHOI di Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Kabupaten Kabupaten Kalimantan Timur, Indonesia, mulai awal tahun depan.
Untuk membantu membuat rilis orangutan sukses, BOSF menarik untuk dukungan dari para pemangku kepentingan global, nasional dan lokal dengan meluncurkan sebuah program yang disebut Habitat Orangutan Program Pemulihan (RHO / Program Restorasi Habitat Orangutan). Tujuan utama dari Program RHO adalah untuk mempercepat persiapan habitat baru bagi orangutan di lokasi pelepasan.
Program awalnya akan mengelola restorasi habitat di konsesi sewa baru diperoleh untuk hutan alam dipulihkan, seluas 86.450 hektar, terletak di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanegara Kalimantan Timur Kabupaten. Konsesi hutan lainnya berada di bawah pertimbangan untuk situs rilis orangutan di masa depan.
Selain itu, ada beberapa daerah yang akan dikelola oleh Program yang masih dalam proses mendapatkan izin dari Pemerintah Indonesia, yaitu: konsesi penebangan mantan PT. Tunggal Pamenang (68.089 hektar) dan konsesi penebangan mantan PT. Narkata Rimba (23.500 hektar). BOSF juga berkoordinasi dengan konsesi penebangan PT. Akhates Plywood untuk rilis orangutan ke habitat alam di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Yayasan BOS Jamartin Sihite telah menunjuk sebagai Program Manager dan Astrik Mursatio Budi sebagai Manajer Asisten Program RHO.


» Donation

Kami sangat menghargai berapapun donasi yang anda berikan sebagai wujud kepedulian anda terhadap upaya pelestarian orangutan dan habitatnya.


Kirimkan donasi anda ke:
BANK : BNI
BRANCH : Fatmawati, Jakarta, Indonesia
SWIFT CODE : BNINIDJAFMI
ACCOUNT NUMBER : 000532 8797
NAME IN ACCOUNT : YAYASAN PENYELAMATAN ORANGUTAN BORNEO
CURRENCY : IDR


Atau mata uang lain :
BANK : Standard Chartered Bank
BRANCH : Jakarta, Indonesia
SWIFT CODE : SCBLIDJX
NAME IN ACCOUNT : YAYASAN PENYELAMATAN ORANGUTAN BORNEO
ACCOUNT NUMBER :
USD : 306060 82473
Euro :306061 50185
GBP :306060 82481


Kami menghargai dukungan dan kontribusi yang baik anda. Harap beritahu kami jika Anda memilikipikiran dan masukan bagi organisasi kami . Kami dan orangutan dikonservasi  sangat menghargaikemurahan hati Anda.


» Adoption


ORANGUTAN HAMPIR PUNAH
Tapi Anda dapat membantu kami menyelamatkan mereka dengan ...
Mengadopsi ORANGUTAN hari ini! 


Ratusan orangutan menjadi Yatim Piatu karena Ibu mereka harus dibunuh terlebih dahulu untuk mendapatkan mereka. Yayasan BOS bersama dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam setempat berupaya menyelamatkan Orangutan yang kehilangan tempat tinggalnya. Orangutan yang berhasil diselamatkan, dibawa ke Pusat Reintroduksi Orangutan untuk belajar bagaimana bertahan hidup di hutan sebelum mereka dapat dilepaskan kembali ke habitat alaminya.
Anda dapat mengulurkan tangan dan mengambil bagian dalam misi penyelamatan Orangutan – Yayasan BOS dengan mengadopsi orangutan. Dengan cara ini, Anda dan orang yang Anda kasihi dapat memberikan kontribusi untuk biaya pakan dan perawatan Orangutan.
Ada dua tipe adopsi yang kami tawarkan:


Shared adoption: satu orangutan dapat diadopsi oleh lebih dari satu adopter baik secara perorangan maupun kelompok.Kami menawarkan pilihan paket adopsi:
  • Bronze: 3 bulan masa adopsi dengan biaya Rp 350.000,- (setara dengan USD 40.00);
  • Silver: 6 bulan masa adopsi dengan biaya Rp 700.000,- (setara dengan USD 80.00);
  • Gold: 12 bulan masa adopsi dengan biaya Rp 1.400.000,- (setara dengan USD 160.00).
Premium adoption: satu orangutan hanya dapat diadopsi oleh satu adopter, baik secara perorangan maupun kelompok.Biaya per orangutan per tahun Rp 35.000.000,- (setara dengan USD 3,500);Minimal masa adopsi 1 tahun;Maksimal sampai orangutan yang diadopsi dilepaskan kembali ke habitat alaminya (hutan) atau mati.Adopter akan mendapatkan:
  • Sertifikat adopsi;
  • Photo orangutan yang diadopsi;
  • Cerita latar belakang orangutan yang diadopsi;
  • Kabar terbaru dari orangutan yang diadopsi, minimal 6 bulan sekali.
» Links and Partners
Berikut ini adalah link alamat website pihak yang bermitra dengan Yayasan BOS
Alamat website yang berhubungan dengan Yayasan BOS atau konservasi di Indonesia/dunia.
Link
Orangutan Concervancy
www.orangutan.com
  Link"Lodge" dengan panorama hutan hujan Kalimantan
www.sambojalodge.com
LinkVier Pfoten
www.vierpfoten.org
  LinkKementrian Negara Lingkungan Hidup Indonesia
www.menlh.go.id
Link
BOS Jepang
www.bos-japan.jp
 Link Departemen Kehutanan Republik Indonesia
www.dephut.go.id
Link
BOS Canada
www.orangutan.ca
   Link
orangutan_friends
www.myspace.com/orangutan_friends
LinkWSPA
www.wspa.org.uk
 LinkMailing List Sobat Orangutan
Klik link ini atau anda bisa mengirimkan email kosong dengan alamat sobat_orangutan-subscribe@yahoogroups.com to join us
LinkOrangutan Outreach
www.redapes.org
  
Link
blogspot Sobat Orangutan Yayasan BOS
sobatorangutan.blogspot.com
Link
BOS-International
www.savetheorangutan.org/
  
Link
Proyek Lahan Gambut KalimantanTengah
www.ckpp.org
Link
United Kingdom
www.savetheorangutan.org.uk/
LinkProyek Lahan Gambut KalimantanTengah(versi Indonesia)
www.ckpp.or.id
Link
Swiss
www.bos-schweiz.ch/
Linkorangutan conservation service program
www.theworldiswatching.info
Link
Denmark
www.orangutang.dk/
   LinkPusat Informasi Lingkungan Indonesia
www.pili.or.id
Link
Swedia
www.orangutanger.se/
LinkYayasan Pelangi Indonesia
www.pelangi.or.id
Link
Australia
www.orangutans.com.au/
LinkYayasan Gibbon Indonesia
www.gibbon.or.id
Link
Jerman
www.bos-deutschland.de/
LinkPusat Primata Schmutzer
www.primata.or.id
LInk
Luxembourg
www.bos-luxembourg.org
    
Link
Primates Helping Primates
www.primateshelpingprimates.nl
    

Minggu, 22 Januari 2012

KOMODO asli Indonesia

Deskripsi




Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanuskomodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo,Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodomerupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderunganmeraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodoyang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yangmendominasi ekosistem tempatnya hidup.Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar danreputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitatkomodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCNmemasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar inikini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional,yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka
 Ciri-ciri Komodo :
1. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap diganti.
2. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gingiva dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka.
3. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang.
4. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.
Klasifikasi
Klasifikasi komodo menurut Green dan King (1991); IBL Reptile Database(1997); dan Zug (1993) diacu dalam
San Diego Zoo Library mengklasifikasikankomodo dalam klasifikasi hewan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Reptilia
Subclass : Diapsida
Order : Squamata
Suborder : Sauria (Lacertilia)
Infraorder : Autarchoglossa
Family : Varanidae
Genus :Varanus
Species :Varanus komodoensis
Komodo dalam bahasa Manggarai dikenal dengan sebutan Ora
Morfologi
Komodo memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan denganbiawak lainnya. Komodo dewasa dapat mencapai panjang tubuh 304 cm dan beratmencapai 81,5 kg. Tetasan komodo ketika baru menetas memiliki rata-ratapanjang tubuh 43 cm dan berat 95 kg, lebih panjang dari pada tetasan jenis laindalam keluarga Varanidae (Jessopet al. 2007).
tercatat mencapai panjang 3,13 m. Menurut Abdoessoeki (1968) komodomemiliki badan yang panjang, lebih besar dari kepalanya. Kepala komodo agak memanjang mirip kadal, matanya kecil, mulutnya agak memanjang ke belakang,kulitnya coklat-kuning kehitam-hitaman dan bersisik kasar.
Habitat
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Perilaku makan
Komodo adalah hewan karnivora. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan.Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer.
Reptil purba ini makan dengan cara mencabik potongan besar daging dan lalu menelannya bulat-bulat sementara tungkai depannya menahan tubuh mangsanya. Untuk mangsa berukuran kecil hingga sebesar kambing, bisa jadi dagingnya dihabiskan sekali telan. Isi perut mangsa yang berupa tumbuhan biasanya dibiarkan tak disentuh.
Air liur yang kemerahan dan keluar dalam jumlah banyak amat membantu komodo dalam menelan mangsanya. Meski demikian, proses menelan tetap memakan waktu yang panjang; 15–20 menit diperlukan untuk menelan seekor kambing. Komodo kadang-kadang berusaha mempercepat proses menelan itu dengan menekankan daging bangkai mangsanya ke sebatang pohon, agar karkas itu bisa masuk melewati kerongkongannya. Dan kadang-kadang pula upaya menekan itu begitu keras sehingga pohon itu menjadi rebah.
Untuk menghindari agar tak tercekik ketika menelan, komodo bernafas melalui sebuah saluran kecil di bawah lidah, yang berhubungan langsung dengan paru-parunya. Rahangnya yang dapat dikembangkan dengan leluasa, tengkoraknya yang lentur, dan lambungnya yang dapat melar luar biasa memungkinkan komodo menyantap mangsa yang besar, hingga sebesar 80% bobot tubuhnya sendiri dalam satu kali makan.
Setelah makan, komodo berjalan menyeret tubuhnya yang kekenyangan mencari sinar matahari untuk berjemur dan mempercepat proses pencernaan. Kalau tidak, makanan itu dapat membusuk dalam perutnya dan meracuni tubuhnya sendiri. Dikarenakan metabolismenya yang lamban, komodo besar dapat bertahan dengan hanya makan 12 kali setahun atau kira-kira sekali sebulan.
Setelah daging mangsanya tercerna, komodo memuntahkan sisa-sisa tanduk, rambut dan gigi mangsanya, dalam gumpalan-gumpalan bercampur dengan lendir berbau busuk, gumpalan mana dikenal sebagai gastric pellet. Setelah itu komodo menyapukan wajahnya ke tanah atau ke semak-semak untuk membersihkan sisa-sisa lendir yang masih menempel, perilaku yang menimbulkan dugaan bahwa komodo, sebagaimana halnya manusia, tidak menyukai bau ludahnya sendiri.
Dalam kumpulan, komodo yang berukuran paling besar biasanya makan lebih dahulu, diikuti yang berukuran lebih kecil menurut hirarki. Jantan terbesar menunjukkan dominansinya melalui bahasa tubuh dan desisannya; yang disambut dengan bahasa yang sama oleh jantan-jantan lain yang lebih kecil untuk memperlihatkan pengakuannya atas kekuasaan itu. Komodo-komodo yang berukuran sama mungkin akan berkelahi mengadu kekuatan, dengan cara semacam gulat biawak, hingga salah satunya mengaku kalah dan mundur; meskipun adakalanya yang kalah dapat terbunuh dalam perkelahian dan dimangsa oleh si pemenang.
Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyetbabi hutankambing,rusakuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cecak, dan mamalia kecil.Kadang-kadang komodo juga memangsa manusia dan mayat yang digali dari lubang makam yang dangkal. Kebiasaan ini menyebabkan penduduk pulau Komodo menghindari tanah berpasir dan memilih mengubur jenazah di tanah liat, serta menutupi atasnya dengan batu-batu agar tak dapat digali komodo.
Ada pula yang menduga bahwa komodo berevolusi untuk memangsa gajah kerdil Stegodon yang pernah hidup di Flores. Komodo juga pernah teramati ketika mengejutkan dan menakuti rusa-rusa betina yang tengah hamil, dengan harapan agar keguguran dan bangkai janinnya dapat dimangsa, suatu perilaku yang juga didapati pada predator besar di Afrika.
Karena tak memiliki sekat rongga badan, komodo tak dapat menghirup air atau menjilati air untuk minum (seperti kucing). Alih-alih, komodo ‘mencedok’ air dengan seluruh mulutnya, lalu mengangkat kepalanya agar air mengalir masuk ke perutnya.
Berlindung
Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang selebar 1–3 meter dengan tungkai depan dan cakarnya yang kuat. Karena besar tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi selanjutnya.]Komodo umumnya berburu pada siang hingga sore hari, tetapi tetap berteduh selama bagian hari yang terpanas. Tempat-tempat sembunyi komodo ini biasanya berada di daerah gumuk atau perbukitan dengan semilir angin laut, terbuka dari vegetasi, dan di sana-sini berserak kotoran hewan penghuninya. Tempat ini umumnya juga merupakan lokasi yang strategis untuk menyergap rusa.

Reproduksi

Musim kawin terjadi antara bulan Mei dan Agustus, dan telur komodo diletakkan pada bulan September. Selama periode ini, komodo jantan bertempur untuk mempertahankan betina dan teritorinya dengan cara "bergulat" dengan jantan lainnya sambil berdiri di atas kaki belakangnya. Komodo yang kalah akan terjatuh dan "terkunci" ke tanah. Kedua komodo jantan itu dapat muntah atau buang air besar ketika bersiap untuk bertempur.
Pemenang pertarungan akan menjentikkan lidah panjangnya pada tubuh si betina untuk melihat penerimaan sang betina.Komodo betina bersifatantagonis dan melawan dengan gigi dan cakar mereka selama awal fase berpasangan. Selanjutnya, jantan harus sepenuhnya mengendalikan betina selama bersetubuh agar tidak terluka. Perilaku lain yang diperlihatkan selama proses ini adalah jantan menggosokkan dagu mereka pada si betina, garukan keras di atas punggung dan menjilat. Kopulasi terjadi ketika jantan memasukan salah satu hemipenisnya ke kloaka betina Komodo dapat bersifat monogamus dan membentuk "pasangan," suatu sifat yang langka untuk kadal.
Betina akan meletakkan telurnya di lubang tanah, mengorek tebing bukit atau gundukan sarang burung gosong berkaki-jingga yang telah ditinggalkan. Komodo lebih suka menyimpan telur-telurnya di sarang yang telah ditinggalkanSebuah sarang komodo rata-rata berisi 20 telur yang akan menetas setelah 7–8 bulan. Betina berbaring di atas telur-telur itu untuk mengerami dan melindunginya sampai menetas di sekitar bulan April, pada akhir musim hujan ketika terdapat sangat banyak serangga
Proses penetasan adalah usaha melelahkan untuk anak komodo, yang keluar dari cangkang telur setelah menyobeknya dengan gigi telur yang akan tanggal setelah pekerjaan berat ini selesai. Setelah berhasil menyobek kulit telur, bayi komodo dapat berbaring di cangkang telur mereka untuk beberapa jam sebelum memulai menggali keluar sarang mereka. Ketika menetas, bayi-bayi ini tak seberapa berdaya dan dapat dimangsa oleh predator.
Komodo muda menghabiskan tahun-tahun pertamanya di atas pohon, tempat mereka relatif aman dari predator, termasuk dari komodo dewasa yang kanibal, yang sekitar 10% dari makanannya adalah biawak-biawak muda yang berhasil diburu. Komodo membutuhkan tiga sampai lima tahun untuk menjadi dewasa, dan dapat hidup lebih dari 50 tahun
Di samping proses reproduksi yang normal, terdapat beberapa contoh kasus komodo betina menghasilkan anak tanpa kehadiran pejantan (partenogenesis), fenomena yang juga diketahui muncul pada beberapa spesies reptil lainnya seperti pada Cnemidophorus.

Bisa dan bakteri

Pada akhir 2005, peneliti dari Universitas Melbourne, Australia, menyimpulkan bahwa biawak Perentie (Varanus giganteus) dan biawak-biawak lainnya, serta kadal-kadal dari suku Agamidae, kemungkinan memiliki semacam bisa. Selama ini diketahui bahwa luka-luka akibat gigitan hewan-hewan ini sangat rawan infeksi karena adanya bakteria yang hidup di mulut kadal-kadal ini, akan tetapi para peneliti ini menunjukkan bahwa efek langsung yang muncul pada luka-luka gigitan itu disebabkan oleh masuknya bisa berkekuatan menengah.

Para peneliti ini telah mengamati luka-luka di tangan manusia akibat gigitan biawak Varanus varius, V. scalaris dan komodo, dan semuanya memperlihatkan reaksi yang serupa: bengkak secara cepat dalam beberapa menit, gangguan lokal dalam pembekuan darah, rasa sakit yang mencekam hingga ke siku, dengan beberapa gejala yang bertahan hingga beberapa jam kemudian.
Sebuah kelenjar yang berisi bisa yang amat beracun telah berhasil diambil dari mulut seekor komodo di Kebun Binatang Singapura, dan meyakinkan para peneliti akan kandungan bisa yang dipunyai komodo
Di samping mengandung bisa, air liur komodo juga memiliki aneka bakteri mematikan di dalamnya; lebih dari 28 bakteri Gram-negatif dan 29 Gram-positif telah diisolasi dari air liur ini. Bakteri-bakteri tersebut menyebabkan septikemia pada korbannya. Jika gigitan komodo tidak langsung membunuh mangsa dan mangsa itu dapat melarikan diri, umumnya mangsa yang sial ini akan mati dalam waktu satu minggu akibat infeksi.
Bakteri yang paling mematikan di air liur komodo agaknya adalah bakteri Pasteurella multocida yang sangat mematikan; diketahui melalui percobaan dengan tikus laboratorium. Karena komodo nampaknya kebal terhadap mikrobanya sendiri, banyak penelitian dilakukan untuk mencari molekul antibakteri dengan harapan dapat digunakan untuk pengobatan manusia.
Konservasi
Biawak komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan, dan dikatagorikan sebagai spesies Rentan dalam daftar IUCN Red List. Sekitar 4.000–5.000 ekor komodo diperkirakan masih hidup di alam liar. Populasi ini terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca (1.300 ekor), Gili Motang (100), Gili Dasami (100), Komodo (1.700), dan Flores (mungkin sekitar 2.000 ekor). Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina yang produktif dan dapat berbiak. Bertolak dari kekhawatiran ini, pada tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi komodo dan ekosistemnya di beberapa pulau termasuk Komodo, Rinca, dan Padar.
Belakangan ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo. Namun pada sisi yang lain, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa komodo, setidaknya sebagian, telah terbiasa pada kehadiran manusia. Komodo-komodo ini terbiasa diberi makan karkas hewan ternak, sebagai atraksi untuk menarik turis pada beberapa lokasi kunjungan.
Aktivitas vulkanis, gempa bumi, kerusakan habitat, kebakaran (populasi komodo di Pulau Padar hampir punah karena kebakaran alami berkurangnya mangsa, meningkatnya pariwisata, dan perburuan gelap; semuanya menyumbang pada status rentan yang disandang komodo. CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species) telah menetapkan bahwa perdagangan komodo, kulitnya, dan produk-produk lain dari hewan ini adalah ilegal.
Meskipun jarang terjadi, komodo diketahui dapat membunuh manusia. Pada tanggal 4 Juni 2007, seekor komodo diketahui menyerang seorang anak laki-laki berumur delapan tahun. Anak ini kemudian meninggal karena perdarahan berat dari luka-lukanya. Ini adalah catatan pertama mengenai serangan yang berakibat kematian pada 33 tahun terakhir.
Penangkaran
Telah semenjak lama komodo menjadi tontonan yang menarik di berbagai kebun binatang, terutama karena ukuran tubuh dan reputasinya yang membuatnya begitu populer. Meski demikian hewan ini jarang dipunyai kebun binatang, karena komodo rentan terhadap infeksi dan penyakit akibat parasit, serta tak mudah berkembang biak.
Komodo yang pertama dipertontonkan adalah pada Kebun Binatang Smithsonian di tahun 1934, namun hewan ini hanya bertahan hidup selama dua tahun. Upaya-upaya untuk memelihara reptil ini terus dilanjutkan, namun usia binatang ini dalam tangkaran tak begitu panjang, rata-rata hanya 5 tahun di kebun binatang tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Walter Auffenberg di atas, yang hasilnya kemudian diterbitkan sebagai buku The Behavioral Ecology of the Komodo Monitor, pada akhirnya memungkinkan pemeliharaan dan pembiakan satwa langka ini di penangkaran.
Telah teramati bahwa banyak individu komodo yang dipelihara memperlihatkan perilaku yang jinak untuk jangka waktu tertentu. Dilaporkan pada banyak kali kejadian, bahwa para pawang berhasil membawa keluar komodo dari kandangnya untuk berinteraksi dengan pengunjung, termasuk pula anak-anak di antaranya, tanpa akibat yang membahayakan pengunjung. Komodo agaknya dapat mengenali orang satu persatu. Ruston Hartdegen dari Kebun Binatang Dallas melaporkan bahwa komodo-komodo yang dipeliharanya bereaksi berbeda apabila berhadapan dengan pawang yang biasa memeliharanya, dengan pawang lain yang kurang lebih sudah dikenal, atau dengan pawang yang sama sekali belum dikenal.
Penelitian terhadap komodo peliharaan membuktikan bahwa hewan ini senang bermain. Suatu kajian mengenai komodo yang mau mendorong sekop yang ditinggalkan oleh pawangnya, nyata-nyata memperlihatkan bahwa hewan itu tertarik pada suara yang ditimbulkan sekop ketika menggeser sepanjang permukaan yang berbatu. Seekor komodo betina muda di Kebun Binatang Nasional diWashington, D.C. senang meraih dan mengguncangkan aneka benda termasuk patung-patung, kaleng-kaleng minuman, lingkaran plastik, dan selimut. Komodo ini pun senang memasuk-masukkan kepalanya ke dalam kotak, sepatu, dan aneka obyek lainnya. Komodo tersebut bukan tak bisa membedakan benda-benda tadi dengan makanan; ia baru memakannya apabila benda-benda tadi dilumuri dengan darah tikus. Perilaku bermain-main ini dapat diperbandingkan dengan perilaku bermain mamalia.
Catatan lain mengenai kesenangan bermain komodo didapat dari Universitas Tennessee. Seekor komodo muda yang diberi nama "Kraken" bermain dengan gelang-gelang plastik, sepatu, ember, dan kaleng, dengan cara mendorongnya, memukul-mukulnya, dan membawanya dengan mulutnya. Kraken memperlakukan benda-benda itu berbeda dengan apa yang menjadi makanannya, mendorong Gordon Burghardt –peneliti– menyimpulkan bahwa hewan-hewan ini telah mementahkan pandangan bahwa permainan semacam itu adalah “perilaku predator bermotif-pemangsaan”.
Komodo yang nampak jinak sekalipun dapat berperilaku agresif secara tak terduga, khususnya apabila teritorinya dilanggar oleh seseorang yang tak dikenalnya. Pada bulan Juni 2001, serangan seekor komodo menimbulkan luka-luka serius pada Phil Bronstein -- editor eksekutif harian San Francisco Chronicle dan bekas suami Sharon Stone, seorang aktris Amerika terkenal -- ketika ia memasuki kandang binatang itu atas undangan pawangnya. Bronstein digigit komodo itu di kakinya yang telanjang, setelah si pawang menyarankannya agar membuka sepatu putihnya, yang dikhawatirkan bisa memancing perhatian si komodo.[ Meski pria itu berhasil lolos, namun ia membutuhkan pembedahan untuk menyambung kembali tendon ototnya yang terluka.